Selasa, 11 Juni 2013

Pong Tiku

Pong Tiku (Toraja, 1846 - Rantepao, Tana Toraja, 10 Juli 1907) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan. Pong Tiku sering juga dipanggil Nene Baso adalah pahlawan nasional yang berjuang melawan penjajahan kolonialisme Belanda di Toraja.
Tentara Belanda pertama kali datang ke Toraja pada tahun 1906. Sekalipun perlawanan Pong Tiku dan kawan-kawan sangat heroik, Belanda kemudian menang melalui tipu muslihat yang berakhir dengan eksekusi Pong Tiku di tepi sungai di Sa'dan, Rantepao pada tahun 1907. Sekarang di atas tempat dihukum matinya Pong Tiku (terletak di Jalan Benteng Batu Rantepao) dibangun sebuah tugu peringatan/prasasti yang menceritakan perjuangan Pong Tiku berikut kutipan prasasti itu:

PAHLAWAN PONGTIKU
1850 :Pongtiku lahir di Rindingallo
1906 Maret :Belanda menduduki Rantepao, Belanda mengirim ultimatum supaja pongtiku menjerah, Pongtiku membalas lebih baik mati daripada menyerah
1906 April :Pertempuran di Tondon Pangala'
1906 Djuni:Pertempuran di Benteng Lali' Londong
1906 Djuni:Permintaan Belanda berunding ditolak
1906 Djuli:Pertempuran di Benteng-Benteng Buntu Asu Ka'do dan Tondok
1906 Agustus:Pertempuran di Benteng Rindingallo
1906 Oktober:Gentjatan Sendjata
1906 November:Belanda dengan siasat Litjiknja Melutjuti semua sendjata pasukan Pongtiku
1907 Djanuari:Pongtiku dengan pasukan menggabung dengan pasukan Bombing di Alla
1907 Maret:Benteng Alla jatuh, Pongtiku kembali ke Pangala'
1907 Djuni 30:Pongtiku ditangkap dan ditahan di Rantepao
1907 Djuli 10:Pongtiku ditembak mati di tempat di tepi sungai Sa'dan

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Pong_Tiku


Jumat, 17 Mei 2013

MahameruKu


Makassar April 2013 terbesit dalam pemikiran-pemikiran sekelompok manusia-manusia yang senang merespon alam untuk suatu arti yang pasti dalam diri sendiri. Setelah menyatukan visi dan misi serta pemikiran2 positif maka diputuskan untuk merespon gunung Semeru di pulau Jawa dengan ketinggian 3676 mdpl. “sesuatu banget” itulah yang mengkokohkan rencana sekelompok manusia-manusia ini.
8 Mei 2013 adalah tanggal pertemuan sekelompo manusia-manusia perespon alam khususnya Gunung Semeru.

Dari kiri ke kanan (Mas Kentang-Surabaya, Echink-Makassar, Jeffry-Makassar, Didit-Surabaya, Kokom-Makassar, Ariane-Makassar, Budi-Jakarta).
Ranu Kumbolo adalah tempat dimana kita membersihkan semua sampah-sampah hati serta pemikiran terhadap sisi dan ruang sekitar. Menenggelamkan ke dasar Ranu dengan terselimutkan kabut tebal dingin menusuk kalbu. Kejernihan air Ranu Kumbolo menjadi cermin bagi kami semua dan melukiskan wajah-wajah orang lain agar ikut menjadi jernih. Rasa dingin air Ranu kumbolo akan terus memberi keseimbangan terhadap panasnya jiwa yang kadang tak terkendali.







Kebersamaan dalam perbedaan adalah keindahan tiada tara, bersama-sama memilih satu tujuan walaupun tidak bersama mencapai. Lantai, dinding dan atap menjadi saksi kebersamaan serta komitmen dalam diri, saling menyapa satu dengan yang lainnya, berbagi demi kehidupan bersama. Berselimutkan kabut dingin serta meneguk hidangan hangat untuk jiwa sang petualang. Teriakan-teriakan sapaan untuk mempererat tali silahturahmi disaksikan lingkaran alam, membuka jendela hati serta mendengar bisikan kata penuh makna.


Menanti sebuah jawaban pasti dengan bayangan yang memberi semangat kehidupan. Apakah ada sebuah jawaban? Apakah setiap coretan akan terus berlalu? Apakah jalan tak berujung masih memperlihatkan kepastian? Apakah warna kehidupan terus bergejolak?



Cinta adalah factor terpenting dalam kehidupan, tanpa cinta hidup akan terasa hampa. Menelusuri tanjakan cinta membuat tekad dalam hidup, melukiskan sebuah nama dalam norma kehidupan. Meyakinkan diri dan menciptakan rasa optimis mengarungi alur kehidupan.


Lukisan hati terkait keindahan alam memberikan inspirasi semangat juang, berada diantara keindahan setiap nafas, membisikkan deretan lirik untuk terus menjaga kebersamaan.

menarik kesimpulan tentang sahabat, menjadi satu dalam coretan, alam menghembuskan nafas persahabatan, abadi kekal tak bertitik, membuatku selalu bernafas dalam kenangan, mengikat tali sepatu dengan rapi, apakah korek gasmu masih memberikan api untuk sebatang rokok penghangat tubuh dalam kesunyian yang dingin...

keberhasilan bukanlah diukur dari materi seseorang, melainkan dari perilakunya yang menempatkan dirinya di antara dua sisi, tekad, asa, Doa, pengharapan dan usaha, itulah spirit hidup kesuksesan, menelusuri jalan setapak, bermandikan keringat dan air mata. buakan sekedar kata "hadooo capek" yang akan membuatmu gagal melainkan "next time saja kalau ke sini lagi", apakah kau masih seperti dirimu diawal kunjunganmu? apakah kau masih berharap dilain kesempatan sedangkan sudah tampak di depan mata? aku dan kamu adalah satu, satu visi dan misi yaitu "SUKSES" :)